Senin, 13 Januari 2014

Luka yang Kau Beri part 2


            Enam tahun kemudian.
            “Rea, kamu mau pulang belum? Kalau mau pulang, yuk bareng sama aku. Aku juga sudah mau pulang nih. “ Sinta tiba-tiba saja masuk ke ruang kantorku.
            “ooh ayo, aku juga sudah mau pulang nih.” Balasku.
            “ooh yaa Rea, kabarnya besuk anak bos yang akan mewarisi perusahaaan ini sudah mulai kerja. Waaah anaknya pasti ganteng. Lihat saja wajah bos kita itu, sudah berumur tapi tetap saja
masih kelihatan gantengnya. Hihiihi”
            “hmmm ganteng kalau kelakuannya jelek sama saja bohong. Mending yang wajahnya jelek tapi perilakunya bagus itu baru namanya calon suami plihan. Hahahaa” candaku.
            “ya berdoa saja dia baik, sopan, dan tidak mudah marah. Dan satu lagi dia yang tidak boleh tinggal dia ganteng  jadi bisa buat kita semangat kerja amiiinnn hahahahha.”
            “haahaha bisa saja kamu. Beneran ya kalau dia seperti yang kamu bayangin kamu harus berangkat pagi dan tidak telat yaaa. Hahaha”
            “hehehe tidak janji daahh nanti kamu tagih langsung rugi aku.”
            “hahaha ya sudah  aku duluan yaaa. Mobilmu sebelah mana?”
            “tuh bawah pohon. Tadi parkirannya sudah penuh. Tidak dapat tempat hehheeh”
            “makanya datang pagi-pagi.”
“yaa dehh tapi tidak yakin deh apalagi kalau ada film korea baru hahahaa” teriak Sinta sambil jalan ke mobilnya.
            “selamat pagii cintaaa” sapa Sinta.
            “selamat pagi. Wiiihh tumben jam segini udah sudah di kantor. Mimpi apa semalam?” aku terkejut melihat Sinta sudah duduk di ruangannya.
            “hehehehe kan hari ini hari pertama anak bos kerja, siapa tahu kan dia langsung tertarik sama aku. Hahahaha” jawab Sinta
            “yaelahh sampai segitunya Sin” aku hanya mampu menggelengkan kepala sambil menuju ruang kantorku yang hanya sebelah kantor Sinta.
            “ooh ya Rea nanti jam setengah 9 kumpul di ruang meeting untuk perkenalan anak boss.” Teriak Sinta.
            Jika cinta lama kembali lagi hadir, rasa yang masih tertinggal akan terasa menyakitkan. Sisa-sisanya masih terasa begitu mengganjal di hati. Aku tak bermimpi akan bertemu dengan dia. Dia yang dulu pernah hadir dan pernah menjadi sebagian diriku. Kini mau tidak mau aku harus menghadapi kenyataan yang tidak ku inginkan. Dia yang ingin ku hindar, kini hadir di depan mataku. Entah apa yang harus kulakukan? Bersikap biasa dan berpura-pura tidak mengenalnya? Ahh pusingg kepalaku.
            “Rea, kamu kenapa melihat anak bos seperti kamu mengenal dia? Kamu sudah kenal dia ya?” tanya Sinta curiga.
            “eehh tidak kok. Aku belum pernah kenal dia. Eehh sudah perhatiin bos bicara nanti ditegur.” Balasku cepat.
            “oohh aku tahu, kamu pasti tertarik kan? iya kan iya kan?”
            “enggak yaa. Ssstt sudah dengerin bos tuh.”
            “yaa Rea dan Sinta ada pertanyaan?” tanya bos tiba-tiba.
            “emm....err.... tidak pak.” Jawab Sinta gugup.
            “ohh ya ini anak saya yang akan menggantikan saya nanti. Kenalkan namanya Riski Andrianto. Umur 29 tahun. Masih single and avaliable. Iya kan, Ris?” tanya Pak Ahmad.
            “iya. Eeh Papa tadi tanya apa?” balas Riski.
            “kamu masih single kan? kamu kenapa tidak mendengarkan Papa tanya tadi? Ada staff Papakah yang sudah menarik perhatian kamu hmm?” tanya Pak Ahmad.
            “ahh Papa ini bisa saja.” Sambil tersenyum segan karena tertangkap Pak Ahmad tidak memerhatikan kata-katanya tadi.
            “aku yakin kamu ada disini. Akhirnya aku berhasil menemukanmu Rea sayang. Aku merindukanmu.” Kata Riski dalam hati sambil tak berhenti melihat Rea yang ada di ujung meja pertemuan di ruang meeting tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar