Burung ramai berkicau menyambut datangnya pagi. Aku terbangun
menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Hari ini ada ulangan matematika
untunglah semalam sempat belajar. Aku segera bersiap diri dan membantu
ibu sekedarnya di dapur. Setelah siap aku segera menuju sekolah
berjarak 10 km yang harus kutempuh dengan bus. Aku harus pergi pagi-pagi
agar tak ketinggalan bus.
Di atas bus aku bertemu Vina, teman satu sekolah yang selama ini tak
pernah kulihat naik bus,
biasanya dia selalu diantar sopir pribadi. Aku
heran, entah kenapa pagi ini dia naik bus.
“ Hai, tumben berangkat naik bus? ” sapaku padanya.
“ Apa urusanmu? Aku mau naik bus mau dianter masalah buat lu? ” jawab dia sambil memandang sinis padaku.
“ Aku Cuma sekedar tanya aja kok, nggak bermaksud apa-apa. “ jawabku.
“ udahlah nggak usah sok sibuk dengan urusanku, urus aja ibumu jualan pisang. “ bentak dia.
Aku terdiam mendengarnya. Hatiku merasa sakit mendengar hinaan
itu.Akhirnya aku duduk menjauh dari dia. Sungguh dia terlalu berlebihan
menghina orang yang kusayangi selama ini.
Sesampainya di sekolah, aku segera menuju ke kelasku.Tak kuhiraukan
lagi Vina yang baru turun dari bus.Aku terlalu sakit mendengar hinaan
tadi.Biarlah hanya Tuhan yang tahu rasa sakit ini.
*******
KRRRIIIINGGG !!!!
Bel istirahat berbunyi.
BRRUUUKKK !!!
Tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang.
“ Hehh, jalan lihat jalan dong, jangan asal nabrak. “ bentakan Vina terdengar di telingaku.
“ Maaf aku nggak sengaja. “ jawabku.
“ Maaf maaf, gampang aja minta maaf, sakit tahu, aku gegar otak
gimana? Mampu lu bawa gue ke rumah sakit dan bayarinnya. Gue yakin anak
penjual pisang mana sanggup bayarin operasi di rumah sakit.“ bentak Vina
sambil berlalu meninggalkanku.
Aku hanya terdiam mendengarnya.Sungguh Vina terlalu menghinaku.
Setelah Vina udah jauh melangkah, aku segera menuju ke ruang TU sebelum
waktu istirahat habis.
“ Fara, kapan kamu akan melunasi uang SPP yang sudah menunggak 6 bulan ini? “ tanya Bu Rena, pengurus keuangan di sekolah ini.
“ Emmm…. Maaf Bu Rena ibu saya belum punya uang kemarin baru dipakai
untuk berobat penyakit Typus.“ jawabku sambil menundukkan kepala tidak
berani memandang Bu Rena yang memandang tajam ke arahku.
“ Apa pun alasanmu saya tidak terima. Kemarin sudah diberi waktu
selama sebulan.Ibumu menyanggupinya. Ini surat untuk ibumu. Besok harus
datang.“ kata Bu Rena.
“ Iya, Bu. “ jawabku sambil menerima surat dari Bu Rena.
“ Kalau ibumu belum juga membayar uang SPP itu, kamu dikeluarkan dari
sekolah ini. Oke, sekarang kamu boleh keluar dari ruangan ini“ kata Bu
Rena lagi.
“ Iya, Bu, permisi.” Pamitku sambil berdiri dan keluar dari ruang TU.
Aku terpikirkan akan kata-kata Bu Rena dan mencari jalan keluar untuk
menyelesaikan masalah ini. Aku nggak bisa konsentrasi mengikuti
pelajaran kimia. Apa yang harus kulakukan untuk membantu Ibu untuk
membayar SPPku yang belum terbayar selama 6 bulan ini. Aku ingin kerja
untuk meringankan beban Ibu. Tapi aku mau kerja apa?? Aku pusing.
*******
“ Assalamu’alaikum “ ucapku sebelum masuk ke rumah.
“ Wa’alaikumsalam, sudah pulang Ra? “ tanya Ibu.
“ Sudah, Bu. “ jawabku sambil menghempaskan tubuhku ke kursi di ruang tamu.
“ Kamu kenapa kok kelihatan murung? Ada masalah apa? Cerita sama Ibu
siapa tahu Ibu bisa bantu. “ tanya ibu yang melihat tingkahku.
“ Emmmm.. ini Bu ada surat panggilan dari sekolah untuk Ibu. Masalah
tentang pembayaran SPP yang sudah menunggak. Katanya Bu Rena jika nggak
bisa melunasi secepatnya aku mau dikeluarkan dari sekolah.“ jawabku
sambil menundukkan kepala tidak berani memandang ibu.
Ibu terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku.
“ Yaudah nanti Ibu usahain untuk melunasi. Sekarang kamu pergilah
ganti baju, sholat terus makan.Ibu udah nyiapin di dapur.” kata Ibu
setelah berpikir beberapa saat.
“ Iya, Bu. “ jawabku menurut.
*******
“ Fara, ini uang untuk bayar SPPmu lunas. “ kata Ibu sebelum aku pamit berangkat sekolah pagi ini.
“ Ibu dapat uang darimana? “ tanyaku heran.
“Sudahlah nggak usah tanya, bawa aja uang ini, semoga cukup buat bayar SPPmu. “ jawab Ibu.
Aku pun hanya terdiam mendengarnya.Hatiku bertanya-tanya, darimana
Ibu bisa secepat itu mendapatkan uang itu.Aku kasihan melihat Ibu yang
berjuang mempertahankan sekolahku.Seandainya Ibu mengizinkan aku ingin
bekerja membantunya, tetapi Ibu tak pernah mengizinkannya.
******
Sepulang sekolah aku tidak melihat Ibu.Rumah terkunci rapat. Entah
dimana Ibuku berada.Tak biasanya sesore ini Ibu tidak di rumah.Aku masuk
menuju dapur, perutku terasa lapar.Aku menunggu Ibu hingga malam tapi
tak juga Ibu pulang.Akhirnya aku terlelap di ruang tamu. Jam 21.00 ibu
membangunkanku, menyuruhku tidur ke kamar. Saat itu aku melihat wajah
Ibu sangat kelelahan.Aku ingin bertanya tetapi rasa kantukku sangat
berat.Akhirnya kulangkahkan kaki ke kamar dan tidur.
Pagi harinya, aku sudah tidak menjumpai Ibu di dapur.Entah dimana
sepagi ini Ibu pergi.Di meja dapur sudah tersedia sarapan
untukku.Setelah sarapan aku berangkat sekolah tanpa pamit.Ibu tak
kutemui walau aku sudah memanggil namanya berulangkali.Aku khawatir,
dimana sebenarnya Ibu berada.
Pagi ini aku tidak konsentrasi mengikuti pelajaran demi pelajaran
yang diberikan guruku.Pikiranku masih terpaut pada Ibu.Aku khawatirkan
terjadi apa-apa pada Ibu. Siangnya saat aku pulang aku tak menjumpai Ibu
lagi.Akkhh Ibu dimana Ibu berada.
Malam itu aku tidak bisa memejamkan mata.Aku menunggu kepulangan
Ibu.Aku ingin bertanya ibu dua hari kemana saja.Pergi pagi pulang malam.
Tak mungkin Ibu jualan pisang sampai malam.
Ketika angka jarum jam menunjukkan angka 9 malam, kulihat Ibu pulang. Aku membukakan pintu depan.
“ Belum tidur, Ra? “ tanya ibu terkejut.
“ Belum, Bu. Ibu darimana kok jam segini baru pulang? “ tanyaku.
“ Ibu kerja, Ra. “ jawab Ibu.
“ Kerja dimana, Bu? Kerja kok sampai malam begini?“ tanyaku lagi.
“ Iya, Ra. Ibu kerja untuk membayar hutang Ibu. Hanya dengan kerja
sebagai pembantu di rumah Pak Rahmad ini untuk melunasi hutang Ibu.Ibu
tidak ingin kamu berhenti sekolah hanya gara-gara SPPmu nunggak.Ibu rela
kerja apa saja asal kamu tetap sekolah. Hanya kamu satu-satunya harapan
Ibu.Ibu ingin kamu tidak hidup menderita seperti Ibu.“ panjang lebar
ibu menjelaskan padaku.
Aku hanya terdiam dan menangis mendengarnya.Ku peluk erat tubuh Ibu
yang telah membesarkanku. Sungguh pengorbanan Ibu sangat besar untukku
setelah kepergian Ayah 2 tahun yang lalu.Dengan cucuran keringatnya Ibu
mendidikku dan tetap ingin membuat hidupku sukses.Ibu telah menjadi
pahlawanku yang rela berkorban demi anaknya ini satu-satunya.Aku tidak
ingin membuat Ibu kecewa.Aku berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh
Ibu. Terimakasih Ibu pengorbananmu sungguh besar.Kaulah pahlawanku dalam
hidupku.